BRMP Sulteng: PMAAS Jadi Langkah Strategis Menuju Swasembada Pangan Berkelanjutan

 


‎SIGI.Rekan Rakyat, – Pemerintah terus mendorong penerapan teknologi budidaya modern di sektor pertanian sebagai upaya memperkuat swasembada pangan nasional. Salah satunya melalui program Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS) yang mulai diterapkan di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Sigi.

‎Mewakili Kepala Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sulawesi Tengah, Penyuluh Madya sekaligus Kapoksi Penerapan dan Penilaian Kesesuaian, Dr. Herawati, S.P., M.Si., mengatakan PM-AAS merupakan program strategis Kementerian Pertanian yang dirancang untuk meningkatkan produktivitas padi melalui penerapan teknologi budidaya modern secara terpadu.



‎Menurutnya, program tersebut tidak hanya mengubah sistem tanam, tetapi juga mengoptimalkan seluruh tahapan budidaya, mulai dari penggunaan benih unggul, pengolahan lahan, pemupukan berimbang, hingga pemanfaatan alat dan mesin pertanian (alsintan).

‎"Target yang ingin dicapai dari penerapan PM-AAS adalah produktivitas padi sekitar 8 hingga 10 ton per hektare. Dengan dukungan teknologi dan pendampingan penyuluh, hasil tersebut sangat memungkinkan untuk dicapai," ujar Herawati saat Menghadiri kegiatan tanam perdana PM-AAS yang diselenggarakan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) BPP wilayah kerja Mantikole di Desa Sibonu, Kecamatan Dolo Barat, Kamis (30/7).

‎Ia menjelaskan, salah satu keunggulan PM-AAS dibandingkan pola budidaya konvensional terletak pada peningkatan populasi tanaman. Melalui sistem tanam yang lebih rapat menggunakan alat tanam benih langsung (atabela), jumlah populasi tanaman dalam satu hektare dapat mencapai sekitar 800 ribu hingga lebih dari satu juta rumpun.

‎Dengan populasi tanaman yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang optimal, potensi peningkatan hasil panen juga menjadi lebih besar.

‎Selain meningkatkan populasi tanaman, penggunaan alsintan membuat proses pengolahan lahan hingga penanaman menjadi lebih cepat, efisien, dan mampu mengurangi ketergantungan terhadap tenaga kerja manual.

‎"Kalau menggunakan sistem tanam pindah secara manual, kebutuhan tenaga kerja cukup besar. Dengan PM-AAS, proses tanam menjadi lebih efisien karena didukung mekanisasi pertanian," katanya.

‎Herawati menambahkan, penerapan PM-AAS juga memperhatikan kondisi lahan melalui penggunaan dolomit untuk memperbaiki tingkat keasaman tanah serta pupuk silika yang berfungsi memperkuat batang tanaman sehingga tidak mudah rebah.

Di sisi lain, metode pengairan berselang (intermittent irrigation) yang diterapkan dalam sistem ini dinilai lebih hemat air. Pendekatan tersebut menjadi penting mengingat kondisi cuaca yang cenderung panas dan curah hujan yang mulai berkurang di sejumlah wilayah.

‎"Teknologi yang digunakan tetap disesuaikan dengan kondisi lahan di masing-masing daerah. Jadi penerapannya tidak sama persis, tetapi mengikuti karakteristik lokasi," jelasnya.

‎Untuk Sulawesi Tengah, program PM-AAS pada tahun ini ditargetkan diterapkan di lahan sawah seluas sekitar 24 ribu hektare. Sementara itu, Kabupaten Sigi mendapat target pengembangan sekitar 5.000 hektare.

‎Menurut Herawati, keberhasilan pencapaian target tersebut membutuhkan peran aktif para penyuluh pertanian di lapangan. Setiap penyuluh didorong mendampingi penerapan PM-AAS di lahan seluas sekitar 20 hektare agar teknologi budidaya modern dapat diterapkan secara optimal oleh petani.

‎"Kami optimistis target tersebut dapat tercapai melalui pendampingan penyuluh dan dukungan berbagai pihak. Harapannya, produktivitas petani terus meningkat sehingga mampu memperkuat swasembada pangan nasional," tutupnya.(Ir)