‎JIAT di Desa Sipure Mulai Hidupkan Harapan Petani, 35 Hektare Sawah Berpotensi Produktif Kembali

 


‎Donggala, Rekan RaKyat – Upaya pemerintah dalam memperkuat sektor pertanian melalui pembangunan jaringan irigasi air tanah (JIAT) mulai dirasakan manfaatnya oleh petani di Desa Sipure, Kecamatan Balaesang, Kabupaten Donggala.

‎Program yang dilaksanakan berdasarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 2 Tahun 2025 ini dibiayai melalui APBN dan dikerjakan oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi III Palu, dengan PT Nindya Karya sebagai kontraktor pelaksana.

‎Pembangunan JIAT tersebut menyasar lahan pertanian seluas kurang lebih 35 hektare yang sebelumnya mengalami keterbatasan air, bahkan sempat tidak digarap selama bertahun-tahun akibat rusaknya jaringan irigasi dan distribusi air yang tidak optimal.

‎Sekretaris Desa Sipure, Almaarif, saat ditemui di kediamannya, Rabu (29/4), menjelaskan bahwa sebelum adanya pembangunan JIAT, aliran air ke area persawahan kerap terputus. Hal ini disebabkan oleh kerusakan pada saluran irigasi tersier, sehingga air dari sumber tidak mampu menjangkau lahan pertanian warga.

‎“Dulu air tidak tembus sampai ke sini karena saluran putus. Akibatnya banyak lahan yang tidak digarap, bahkan ada yang beralih fungsi jadi kebun karena kekurangan air,” ungkapnya.

‎Menurutnya, kondisi tersebut sempat membuat sebagian petani memilih menanam tanaman lain seperti durian dan kelapa, meskipun alih fungsi lahan sawah sebenarnya dibatasi oleh aturan.

‎Kini, dengan hadirnya jaringan JIAT, harapan petani untuk kembali menggarap sawah mulai tumbuh. Aliran air dinilai sudah jauh lebih baik, sehingga lahan yang sebelumnya terbengkalai berpotensi kembali produktif.

‎Meski demikian, Almaarif mengungkapkan masih terdapat beberapa catatan teknis di lapangan, terutama terkait titik pembagian air yang dinilai belum sepenuhnya sesuai dengan kondisi saluran irigasi yang ada.

‎“Ada beberapa posisi pembagian air yang perlu disesuaikan lagi. Harapannya ke depan bisa diperbaiki agar distribusi air merata ke seluruh lahan,” jelasnya.

‎Ia juga mengingatkan pentingnya koordinasi antara pihak pelaksana proyek, pemerintah desa, dan kelompok tani agar pemanfaatan jaringan irigasi dapat berjalan optimal serta menghindari kerusakan fasilitas.

‎“Kami khawatir kalau tidak sesuai, ada petani yang nekat membuat saluran sendiri. Itu bisa merusak jaringan yang sudah dibangun,” tambahnya.

‎Rencananya, jaringan JIAT tersebut akan segera diserahterimakan dari pihak BWS kepada pemerintah desa dalam waktu dekat, sebelum kemudian dimanfaatkan secara penuh oleh petani.

‎Dengan hadirnya infrastruktur ini, masyarakat Desa Sipure menyambut positif dan berharap sistem irigasi yang lebih baik dapat meningkatkan hasil pertanian, khususnya saat musim kemarau yang selama ini menjadi tantangan utama.

‎Program JIAT ini diharapkan menjadi solusi berkelanjutan dalam menjaga ketersediaan air sekaligus mendukung ketahanan pangan di wilayah Kabupaten Donggala.(*)IR