Donggala.Rekan Rakyat, – Pemerintah Kabupaten Donggala melalui Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) mulai mempercepat penataan sistem pendidikan dari jenjang PAUD, SD hingga SMP. Langkah ini difokuskan pada pemetaan guru, percepatan peningkatan kompetensi, serta penerapan digitalisasi untuk menjawab berbagai tantangan di lapangan.
Kepala Dikdispora Donggala, Ansyar, menyampaikan bahwa penataan tidak hanya melihat perbandingan sekolah negeri dan swasta, tetapi juga mencakup pemetaan domisili guru, kompetensi, hingga kebutuhan riil di setiap satuan pendidikan.
“Pemetaan ini penting agar kita tahu kebutuhan sebenarnya. Termasuk bagaimana mendekatkan guru dengan tempat tinggalnya serta melihat kecukupan tenaga pendidik di tiap sekolah,” ujarnya usai peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) ke-67 di Lapangan Desa Sioyong, Kecamatan Dampelas, Sabtu (2/5).
Menurutnya, persoalan kekurangan guru masih menjadi tantangan, khususnya pada jenjang SMP yang membutuhkan guru mata pelajaran tertentu. Bahkan, terdapat sekolah yang hanya memiliki tiga tenaga pengajar sehingga proses belajar mengajar tidak berjalan optimal.
Selain itu, kebijakan ke depan terkait penataan guru dari sekolah swasta ke negeri juga menjadi perhatian. Pemerintah daerah harus memastikan ketersediaan formasi dan kesesuaian mata pelajaran sebelum melakukan penempatan ulang.
“Kalau guru SD relatif lebih fleksibel karena guru kelas. Tapi kalau SMP, harus dilihat apakah ada kebutuhan mata pelajaran di sekolah tujuan,” jelasnya.
Dalam mendukung upaya tersebut, Disdikpora Donggala juga meluncurkan program digitalisasi yang mencakup dua aspek utama, yakni digitalisasi kepegawaian dan digitalisasi pembelajaran.
Melalui digitalisasi kepegawaian, guru tidak lagi harus meninggalkan tugas mengajar hanya untuk mengurus administrasi seperti kenaikan pangkat, mutasi, hingga pencairan gaji.
“Selama ini guru bisa menghabiskan waktu berhari-hari hanya untuk urus administrasi. Dengan sistem digital, itu bisa dilakukan dari sekolah masing-masing,” kata Ansyar.
Sementara itu, digitalisasi pendidikan dilakukan melalui kerja sama dengan Google untuk memanfaatkan berbagai fitur pembelajaran berbasis teknologi. Program ini juga diperkuat dengan pengembangan komunitas belajar seperti MGMP dan KKG guna meningkatkan kompetensi guru secara berkelanjutan.
Meski demikian, Ansyar mengakui masih terdapat tantangan dalam penerapan digitalisasi, terutama pada kesiapan sumber daya manusia di kalangan tenaga pendidik.
“Masih ada yang belum familiar, tapi ini akan terus kita dorong karena menjadi kebutuhan ke depan,” tambahnya.
Di sisi lain, perhatian juga diberikan kepada guru yang bertugas di wilayah terpencil dan kepulauan. Pemerintah daerah akan melakukan pendataan terkait penerimaan tunjangan daerah terpencil (dacil), termasuk kemungkinan intervensi melalui anggaran daerah jika masih terdapat kekurangan.
Ia juga menyoroti persoalan transportasi bagi guru di wilayah kepulauan yang dinilai masih menjadi kendala utama dalam menjalankan tugas.
“Kita tidak ingin mengambil keputusan tanpa melihat langsung kondisi di lapangan. Saya berencana turun langsung ke wilayah kepulauan untuk memastikan kebutuhan mereka,” tegasnya.
Hasil kunjungan tersebut nantinya akan menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan, termasuk kemungkinan penyediaan bantuan transportasi laut bagi guru yang bertugas di daerah sulit dijangkau.
Pemkab Donggala berharap, melalui kombinasi pemetaan yang akurat dan digitalisasi sistem, kualitas pendidikan di daerah dapat meningkat secara merata, sekaligus mengurangi beban administratif guru agar lebih fokus pada proses pembelajaran.(*)Ir
