Sunju Jadi Pilot Project Pakagali Pakagaya Ngata, Pemda Sigi Fokus Penanganan Sampah Desa

 


‎SIGI.Rekan Rakyat, – Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Sigi melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) resmi memulai  pengelolaan sampah berbasis desa melalui kolaborasi antara pemerintah desa, masyarakat, dan pihak pengembang (developer). Desa Sunju, Kecamatan Marawola, ditetapkan sebagai proyek percontohan (pilot project) dalam program “Pakagali Pakagaya Ngata”..

‎Bupati Sigi, Mohamad Rizal Intjenae, menegaskan dukungannya terhadap langkah tersebut sebagai bagian dari upaya membangun desa yang bersih, sehat, dan produktif.

“Program ini harus berkelanjutan. Kita ingin desa tidak hanya bersih dan indah, tetapi juga mampu mengelola sampah menjadi sesuatu yang bernilai,” ujarnya.

‎Ia menjelaskan, pengelolaan sampah akan difokuskan pada sistem yang terintegrasi, mulai dari pemilahan di tingkat rumah tangga hingga pengolahan menjadi pupuk organik. Dalam pelaksanaannya, Satgas kebersihan desa akan bekerja bersama ibu-ibu PKK dan didukung pihak pengembang.

‎“Pengomposan ini bisa dimanfaatkan untuk pekarangan rumah tangga. Jadi sampah tidak sekadar dibuang, tetapi memberi nilai ekonomi bagi masyarakat,” tambahnya.

Kegiatan yang digelar Rabu (6/5) di Kantor Desa Sunju itu dirangkaikan dengan aksi bersih-bersih di sejumlah titik Tempat Pembuangan Sementara (TPS). Pada kesempatan tersebut, Bupati juga menyerahkan bantuan sarana prasarana secara simbolis kepada Kepala Desa Sunju, Asmawi, disertai dukungan dari pihak developer.

‎Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Heru, menegaskan bahwa penanganan sampah tidak bisa dilakukan oleh pemerintah semata, melainkan membutuhkan keterlibatan semua pihak.

‎“Penanganan sampah ini tidak bisa kami lakukan sendiri. Harus ada kolaborasi antara pemerintah, developer, masyarakat, dan seluruh stakeholder,” ujarnya.

‎Menurutnya, persoalan sampah liar masih menjadi tantangan serius di Kabupaten Sigi. Dengan keterbatasan personel yang hanya sekitar 40 orang, DLH tidak memungkinkan untuk menangani seluruh titik sampah setiap hari tanpa dukungan dari masyarakat.

‎“Kalau masyarakat masih membuang sampah sembarangan, tentu ini akan terus menjadi masalah. Karena itu, kami dorong kesadaran bersama agar tidak lagi membuang sampah di jalan atau di lahan kosong,” katanya.

‎Dalam skema program ini, desa membentuk Satuan Tugas (Satgas) kebersihan yang bertugas melakukan pengumpulan sampah dari rumah tangga ke Tempat Penampungan Sementara (TPS). Selanjutnya, DLH akan mengangkut sampah tersebut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

‎Heru menjelaskan, pemerintah desa juga didorong untuk mendata lahan-lahan kosong yang berpotensi menjadi tempat pembuangan sampah liar, agar dapat dikelola atau diawasi bersama.

‎Selain itu, DLH akan melakukan patroli serta pemasangan papan larangan di sejumlah titik rawan pembuangan sampah ilegal. Pendekatan persuasif melalui pemerintah desa dan tokoh adat juga akan diutamakan sebelum penerapan sanksi.

Untuk mendukung operasional, DLH menyediakan bak sampah dan kendaraan roda tiga (kaisar). Sementara itu, pihak developer berkomitmen menambah armada serupa dalam waktu dekat.

‎“Kami upayakan ke depan desa-desa lain juga bisa mendapatkan dukungan, tentu melihat kondisi keuangan daerah. Yang penting ada komitmen dari desa untuk menjalankan program ini,” jelasnya.

‎Sementara itu, Ketua PKK Kabupaten Sigi, Dra. Hj. Siti Halwiah, M.Si, mengatakan penunjukan Desa Sunju sebagai pilot project didasarkan pada kondisi wilayah yang memiliki sejumlah titik sampah liar serta letaknya yang dekat dengan kawasan permukiman.

‎“Di Sunju ini ada sembilan titik sampah yang menjadi prioritas penanganan. Karena itu dijadikan percontohan, agar ke depan bisa diterapkan di desa-desa lain,” ungkapnya.

‎Ia menambahkan, program tersebut merupakan bagian dari inovasi daerah “Pakagali Pakagaya Ngata” yang telah diluncurkan Pemerintah Kabupaten Sigi, sekaligus selaras dengan kebijakan nasional “Indonesia Bersih” yang diusung Presiden Prabowo Subianto. Program ini juga menjadi salah satu prioritas daerah di bawah kepemimpinan Bupati Mohamad Rizal Intjenae dalam mendorong budaya hidup bersih di lingkungan masyarakat dan sekolah.

‎Menurutnya, lingkungan yang bersih tidak hanya berdampak pada estetika, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap kesehatan masyarakat, termasuk upaya pencegahan stunting.

‎“Kalau lingkungan bersih, masyarakat juga sehat. Ini sangat berpengaruh, terutama bagi ibu hamil dan anak-anak,” tandasnya.

‎Ke depan, Pemda Sigi menargetkan program serupa dapat diperluas ke desa-desa lain di Kecamatan Marawola hingga wilayah Sigi Biromaru, dengan harapan Desa Sunju menjadi contoh keberhasilan pengelolaan sampah berbasis kolaborasi.(*)Ir