‎Tanam Perdana PM-AAS di Sibonu, PPL BPP Mantikole Dorong Peningkatan Produktifitas Padi

 


‎SIGI.Rekan Rakyat,– Upaya meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus mendukung program ketahanan pangan nasional terus dilakukan melalui penerapan Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS) di Kecamatan Dolo Barat, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

‎Program tersebut ditandai dengan tanam perdana padi sawah di lahan seluas 3 hektare milik Kelompok Tani Mutiara II di Desa Sibonu, Kamis 30/7.

‎Kegiatan itu dihadiri Bupati Sigi yang diwakili Rahmad Iqbal, Staf Ahli Bupati Bidang Pemerintahan yang juga menjabat sebagai Plt Kepala Dinas Peternakan, BRMP Sulawesi Tengah yang diwakili Dr. Herawati, Perwakilan Dinas Pertanian, unsur TNI-Polri, Camat Dolo Barat, pemerintah Desa Sibonu, penyuluh pertanian, Pupuk Indonesia, serta kelompok tani.



‎Koordinator, Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Wilayah Kerja Mantikole, Anjas, mengatakan penerapan PM-AAS merupakan bagian dari program nasional yang menggabungkan teknologi budidaya modern dengan sistem tanam jajar legowo. Metode tersebut diterapkan sebagai upaya meningkatkan produktivitas padi melalui pola tanam yang lebih efektif, efisien, dan terukur.

‎Menurutnya, pada tahap awal penerapan dilakukan di lahan seluas tiga hektare menggunakan varietas Inpari 32, yang direkomendasikan dalam program PM-AAS karena memiliki potensi hasil yang baik serta sesuai dengan karakteristik lahan di wilayah tersebut.

‎"Yang kita kejar dari program ini adalah peningkatan produksi padi. Untuk tahap awal kami menanam di lahan sekitar tiga hektare di Desa Sibonu dengan menggunakan varietas Inpari 32," ujar Anjas.

‎Ia menjelaskan, benih yang digunakan pada kegiatan perdana tersebut masih berasal dari swadaya penyuluh bersama petani agar program dapat segera berjalan sambil menunggu dukungan pada tahap berikutnya.

‎Anjas berharap penerapan metode PM-AAS tidak hanya berhenti pada lahan percontohan, tetapi dapat dikembangkan secara bertahap di seluruh wilayah kerja BPP Mantikole. Untuk Kecamatan Dolo Barat sendiri, pihaknya menargetkan penerapan metode tersebut dapat mencapai sekitar 400 hektare.

‎Menurutnya, target tersebut hanya dapat diwujudkan melalui kolaborasi berbagai pihak, mulai dari kelompok tani, pemerintah desa, pemerintah kecamatan, pemerintah daerah, hingga instansi pendukung seperti BRMP dan Pupuk Indonesia.

‎Sementara itu, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) BPP Mantikole, Jumadil, menjelaskan, keberhasilan metode PM-AAS tidak hanya bergantung pada benih unggul, tetapi juga pengelolaan lahan yang baik. Salah satunya dengan pemberian pupuk kandang sebelum masa tanam sebagai upaya menjaga kesuburan tanah dan mengurangi dampak penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus.

‎"Setiap sebelum penanaman, lahan harus diberi pupuk kandang. Itu menjadi bagian penting dari metode ini agar kondisi tanah tetap baik," jelasnya.

‎Ia mengakui tantangan terbesar saat ini adalah ketersediaan air pada musim panas dan dukungan sarana produksi. Namun, menurutnya, penyuluh harus lebih dulu memberikan contoh nyata kepada petani.

‎"Kalau penyuluh berani memulai dan menunjukkan hasilnya, petani akan lebih yakin. Karena itu kami memulai secara swadaya, mulai dari benih hingga pendampingan di lapangan," katanya.

‎Selain pendampingan teknis, penyuluh juga akan terus mengawal petani sejak penanaman hingga panen agar penerapan metode PM-AAS berjalan sesuai standar budidaya.

‎Melalui demplot ini, PPL BPP Mantikole berharap teknologi budidaya modern tidak hanya berhenti sebagai proyek percontohan, tetapi dapat diterapkan secara luas oleh petani di Kecamatan Dolo Barat sehingga mampu meningkatkan produksi padi sekaligus mendukung program ketahanan pangan nasional.(Ir)