PALU.Rekan Rakyat, – Setelah sempat menunggu proses perizinan lintas negara, penerbangan internasional perdana rute Palu–Guangzhou, Republik Rakyat Tiongkok (RRT) akhirnya resmi mengudara dari Bandar Udara Internasional Mutiara SIS Al-Jufri, Kamis Malam (6/8) .
Seluruh kursi pesawat Garuda Indonesia yang melayani penerbangan tersebut terisi penuh, menandai dimulainya babak baru konektivitas internasional Sulawesi Tengah.
Sebanyak 157 penumpang diberangkatkan menggunakan pesawat Boeing 737-800 yang memiliki kapasitas 10 kursi kelas bisnis dan 147 kursi kelas ekonomi. Penerbangan langsung menuju Guangzhou itu diperkirakan menempuh waktu sekitar lima jam.
Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, mengatakan momen tersebut menjadi sejarah baru bagi daerah, karena untuk pertama kalinya Bandara Mutiara Sis Al-Jufri benar-benar menjalankan fungsi sebagai bandara internasional sejak status itu kembali ditetapkan pemerintah pusat.
"Ini sejarah baru bagi Sulawesi Tengah. Setelah hampir setahun ditetapkan kembali sebagai bandara internasional, malam ini kita resmi melepas penerbangan internasional perdana. Ini menjadi bukti bahwa Sulawesi Tengah terus bergerak maju, terutama dari sisi pembangunan ekonomi," kata Anwar.
Menurutnya, dibukanya rute internasional ini bukan semata-mata untuk melayani mobilitas tenaga kerja menuju luar negeri. Lebih dari itu, pemerintah daerah ingin membuka peluang yang lebih luas bagi masuknya wisatawan, investor, serta memperkuat hubungan perdagangan dengan negara lain.
"Harapan kita bukan hanya soal tenaga kerja. Yang lebih besar adalah bagaimana penerbangan ini bisa membuka peluang pariwisata, perdagangan, dan bisnis di Sulawesi Tengah," ujarnya.
Gubernur menjelaskan, Garuda Indonesia dijadwalkan melayani rute Palu–Guangzhou sebanyak dua kali dalam sepekan. Dalam waktu dekat, maskapai China Southern Airlines juga dijadwalkan membuka penerbangan langsung dari Guangzhou menuju Palu.
Tak hanya itu, Sriwijaya Air juga tengah menyiapkan layanan penerbangan umrah yang akan berangkat dari Palu menuju Malaysia sebelum melanjutkan perjalanan ke Jeddah.
Meski demikian, ia mengakui fasilitas pendukung di Bandara Mutiara Sis Al-Jufri masih akan terus dibenahi agar mampu memberikan pelayanan yang lebih nyaman bagi penumpang internasional.
"Ini masih tahap awal. Fasilitas kita tentu akan terus diperbaiki sehingga ke depan pelayanan kepada penumpang semakin baik," katanya.
Gubernur juga optimistis konektivitas internasional akan memberi dampak positif bagi sektor pariwisata Sulawesi Tengah. Menurutnya, daerah ini memiliki banyak destinasi yang layak dipromosikan ke pasar internasional, mulai dari kawasan megalit hingga wisata bahari.
"Saat saya berkunjung ke Provinsi Sichuan, saya melihat mereka juga memiliki kawasan megalit sebagai objek wisata. Kita memiliki potensi yang sama. Selain itu ada Donggala, Kepulauan Togean, Banggai, dan banyak destinasi lain yang sangat potensial menarik wisatawan mancanegara," tuturnya.
Sementara itu, Kepala Bandara Mutiara Sis Al-Jufri, Prasetiyohadi, menjelaskan bahwa penerbangan perdana sempat mengalami penyesuaian jadwal akibat proses perizinan yang harus diselesaikan oleh otoritas penerbangan kedua negara.
"Keterlambatan terjadi karena proses perizinan dari Civil Aviation Administration of China (CAAC) yang masih menunggu persetujuan. Di Indonesia juga harus melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara," jelasnya.
Meski sempat mengalami penyesuaian jadwal, antusiasme masyarakat cukup tinggi. Seluruh kursi pada penerbangan perdana terjual habis dan berdasarkan data yang diterima pengelola bandara, jadwal penerbangan untuk sepekan ke depan juga telah penuh dipesan.(Ir)

