PALU.Rekan Rakyat,- Ratusan massa yang Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Sulteng Bersatu menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor Perwakilan Komnas HAM Sulawesi Tengah di Jalan Suprapto, Kota Palu, Senin 9/3.
Aksi yang dimulai sekitar pukul 15.10 WITA dengan pembakaran ban di halaman depan kantor Komnas HAM. Situasi sempat menegang ketika salah satu massa mengalami insiden tangannya tebakar akibat nyala api yang naik pada botol bahan bakar yang digunakan untuk membakar ban.
Beberapa rekannya terlihat memberikan pertolongan pertama dengan mengoleskan pasta gigi pada tangan korban. Beruntung, insiden tersebut tidak menimbulkan luka fatal.
Massa mendesak agar Kepala Perwakilan Komnas HAM Sulteng, Livand Breemer, dicopot dari jabatannya. Mereka menuding Livand tidak konsisten dalam menyuarakan isu pertambangan ilegal.
Koordinator aksi, Amier Sidik, dalam orasinya menuding adanya dugaan kerja sama dengan seseorang berinisial S. Livand memiliki kolam perendaman emas secara pribadi di kawasan Poboya, Kota Palu.
"Jangan sok suci. Ketua Komnas HAM Sulteng ini ibarat maling teriak maling," jelas Amier Sidik saat berorasi .
Situasi semakin memanas ketika sebagian massa melemparkan tomat busuk dan kotoran hewan ke arah halaman hingga area kantor Komnas HAM Sulteng.
Amier juga menuding Livand pernah memasok 42 kaleng sianida ke kawasan tambang di Poboya serta mengirim satu unit alat berat jenis excavator untuk bekerja di lokasi tersebut.
“Ketua Komnas HAM Sulteng pernah memasok 42 kaleng sianida ke Poboya dan alat berat satu unit,” ujarnya.
Orator lainya, Imam Safa’at, juga mengkritik keras sikap Livand yang dinilai terlalu sering menyoroti aktivitas tambang rakyat, sementara berbagai persoalan hak asasi manusia lain di Sulawesi Tengah belum terselesaikan.
“Banyak saudara kita korban bencana yang masih tinggal di hunian sementara yang perlu dibela untuk mendapatkan haknya. Tapi Ketua Komnas HAM Sulteng yang ternyata juga memiliki kolam perendaman emas malah selalu mendesak pelaku tambang untuk ditangkap,” katanya.
Menurut Imam, sikap Livand dianggap kontradiktif karena di satu sisi menolak aktivitas tambang ilegal, tetapi di sisi lain justru diduga terlibat dalam aktivitas yang sama.
Aksi demonstrasi berlangsung sekitar satu jam. Namun Livand Breemer tidak menemui massa aksi.
Hal itu memicu kemarahan massa yang kemudian kembali melempari kantor menggunakan tomat dan kotoran hewan hingga mengotori halaman serta area kantor.
Aksi kemudian ditutup dengan penyegelan kantor menggunakan palang kayu. Massa juga mencoret dinding Komnas HAM dengan tulisan “Kantor Ini Disegel Rakyat” menggunakan cat semprot (pilox).
Usai aksi demonstrasi, Ketua Komnas HAM Livand Breemer memberikan penjelasan kepada media. Ia menyatakan tidak mempermasalahkan aksi dan berbagai dugaan yang disampaikan massa, namun menegaskan bahwa semua tuduhan harus dapat dibuktikan.
Ia membantah pernah terlibat dalam kegiatan pengolahan emas di Poboya, memiliki kolam perendaman,maupun memasok bahan kimia berbahaya seperti sianida sebagaimana yang dituduhkan dalam aksi tersebut.
“Silakan saja mereka menduga. Itu hak setiap orang. Tetapi semua dugaan harus bisa dibuktikan agar tidak menjadi fitnah. Saya tidak pernah mendapatkan atau mengolah emas di Poboya juga bermain Sianida,” tegas Livand.
Ia juga membantah memiliki kolam perendaman di kawasan tambang tersebut.
“Saya punya uang dari mana untuk membuat kolam yang nilainya sampai Rp1 miliar,” ujarnya.
Namun demikian, Livand mengakui pernah mendengar adanya tawaran atau janji pemberian kolam perendaman sebagai bentuk ucapan terima kasih atas keluarnya rekomendasi Gubernur Sulawesi Tengah terkait penetapan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR).
Menurutnya, tawaran tersebut tidak pernah ia respons.
“Itu hanya sebatas janji. Saya juga tidak pernah menjawab apakah menerima atau tidak. Sekarang silakan dibuktikan saja,” katanya.
Ia juga menyampaikan bahwa jika aksi tadi tidak diwarnai dengan pelemparan tomat dan telur ke kantor Komnas HAM, kemungkinan dirinya akan keluar untuk menyambut massa demonstrasi.
Hari yang sama di tempat terpisah, S (inisial) yang disebut-sebut sebagai pihak yang menjanjikan kolam perendaman kepada Livand juga membantah tudingan tersebut.
Ia menjelaskan bahwa rencana pemberian kolam itu bukan berasal dari dirinya, melainkan dari dua rekannya yang saat itu tengah membangun kolam perendaman di kawasan tambang.
“Bukan saya yang menjanjikan. Itu oleh dua teman kami, inisial A dan H. Mereka yang sempat menyampaikan akan memberikan satu kolam kepada Livand sebagai bentuk ucapan terima kasih jika persoalan tambang selesai dengan baik. Tapi itu belum pernah terealisasi,” jelasnya.
Menurutnya, Livand bahkan pernah menolak tawaran uang dalam jumlah besar yang dikaitkan dengan penyelesaian persoalan pertambangan.
“Setahu saya, beliau pernah menolak tawaran uang miliaran rupiah jika masalah tambang itu tidak berpihak pada masyarakat,” ujarnya.(*)

