‎SKB Sakepande Jadi Harapan Warga, Ujian Paket C Diikuti Peserta Lintas Usia ‎

 


Donggala.Rekan Rakyat, — Suasana berbeda terlihat di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Sakepande, Kabupaten Donggala, saat puluhan peserta dari berbagai desa datang silih berganti untuk mengikuti ujian akhir Paket C tahun ajaran 2025/2026. Bukan hanya anak muda, peserta yang ikut bahkan ada yang sudah berusia hingga 50 tahun.

‎Kepala SKB Sakepande Sarassuwati menjelaskan, ujian ini merupakan tahap akhir bagi peserta didik kesetaraan setara SMA. Sebelum ujian sekolah, mereka juga telah mengikuti Tes Kompetensi Akademik (TKA) yang kini menjadi pengganti ujian nasional.

‎“Jadi ini penentu kelulusan mereka. Sebelumnya ada ujian kompetensi atau TKA,” ujarnya saat ditemui Minggu 18/4

‎Jumlah peserta tercatat lebih dari 67 orang, berasal dari beberapa wilayah seperti Desa Palau, Kecamatan Balaesang Tanjung, serta wilayah Pani’i dan Pelas. Untuk mengikuti ujian, para peserta harus menempuh perjalanan yang tidak mudah.

‎“Ada yang datang naik motor, ada juga yang sewa mobil. Mereka datang pagi, sore pulang,” katanya.

‎Pelaksanaan ujian berlangsung selama empat hari, mulai Selasa hingga Jumat (14–17 April 2026). Meski jadwal dimulai pukul 08.00 pagi, pihak SKB tetap memberi kelonggaran bagi peserta yang datang terlambat.

‎“Kami fleksibel. Ada yang datang jam 10, bahkan ada yang sore. Yang penting mereka tetap bisa ikut ujian,” jelasnya.

‎Fleksibilitas itu bukan tanpa alasan. Banyak peserta yang harus membagi waktu antara pekerjaan dan pendidikan. Bahkan, ada yang sempat enggan datang karena kesibukan kerja, sehingga pihak SKB harus melakukan pendekatan secara persuasif.

‎“Kami bujuk supaya mereka tetap ikut. Jangan sampai hanya terdaftar tapi tidak ujian. Kami tidak mau ada ijazah yang sekadar formalitas,” tegasnya.

‎Program Paket C di SKB Sakepande memang terbuka untuk semua kalangan usia. Dari data yang ada, sebagian besar peserta sudah berusia di atas 21 tahun, bahkan ada yang telah berkeluarga.

‎“Ada yang 25 tahun, bahkan 40 sampai 50 tahun. Sekitar 75 persen sudah menikah,” ungkapnya.

‎Hasil ujian sendiri rencananya akan diumumkan pada awal Mei mendatang.

‎Lebih jauh, ia berharap program pendidikan kesetaraan ini bisa menjangkau lebih banyak masyarakat, terutama mereka yang putus sekolah.

‎“Harapan kami, ke depan makin banyak yang ikut. Supaya angka putus sekolah bisa ditekan,” katanya.

‎Program kesetaraan yang dijalankan SKB mencakup Paket A (setara SD), Paket B (SMP), dan Paket C (SMA). Selain itu, juga ada program keaksaraan fungsional bagi masyarakat yang belum lancar membaca.

‎Selama ini, pihak SKB bahkan aktif turun langsung ke lapangan untuk menjangkau warga di daerah terpencil. Kegiatan belajar mengajar pun kadang memanfaatkan fasilitas sekolah yang dipinjam, seperti SD, dan dilaksanakan di hari libur.

‎“Kami jemput bola. Pernah satu hari penuh kami ke Palau, belajar di sekolah yang kami pinjam,” tuturnya.

‎Ke depan, SKB Sakepande berencana lebih aktif melakukan pendataan kebutuhan pendidikan masyarakat. Tujuannya sederhana: memastikan tidak ada lagi warga yang tertinggal akses pendidikannya.

‎“Kalau ada yang putus sekolah, kami sesuaikan. Putus SD masuk Paket A, putus SMP ke Paket B, dan seterusnya,” pungkasnya.(*)Ir