‎Kepala SMPN 1 Sigi Klarifikasi Video Viral, Tegaskan Siswa Tidak Dipekerjakan ‎

 



SIGI.Rekan Rakyat, SMP Negeri 1 Sigi memberikan klarifikasi terkait video yang Belum lama ini viral di salah satu platform media sosial yang menampilkan sejumlah siswa berada di area pembongkaran aset sekolah. 

Kepala sekolah, Viviyanti, menegaskan bahwa pihak sekolah tidak pernah memperkerjakan siswa dalam aktivitas pembongkaran tersebut.

‎Saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (13/5), Viviyanti menjelaskan bahwa kegiatan itu merupakan proses penataan dan pengamanan aset sekolah menjelang pelaksanaan revitalisasi bangunan sekolah yang saat ini masih dalam tahap administrasi.

‎“Pembongkaran itu sebenarnya bagian dari pengamanan aset daerah. Tukang hanya menurunkan dan merapikan barang-barang yang ada,” ujarnya.

‎Ia mengakui adanya kesalahpahaman akibat narasi atau caption yang beredar di media sosial sehingga menimbulkan persepsi berbeda di tengah masyarakat. Menurutnya, saat kejadian hanya ada satu siswa yang membantu guru, kemudian siswa lain ikut bergerak karena terbiasa aktif dalam kegiatan sekolah.

‎“Kami tidak pernah memperkerjakan siswa. Anak-anak di sini memang terbiasa aktif membantu. Kalau satu bergerak, biasanya yang lain ikut,” katanya.

‎Viviyanti menambahkan, para siswa di sekolahnya juga telah dibiasakan dengan kegiatan peduli lingkungan melalui program Adiwiyata. Para siswa bahkan sudah mampu memilah jenis sampah seperti sampah plastik, sampah organik yang dapat terurai, hingga sampah B3.

‎Ia juga mengaku telah berupaya membuka komunikasi dan meminta pihak yang keberatan untuk datang berdiskusi langsung di sekolah. Namun undangan tersebut belum mendapat respons.

‎Selain memberikan klarifikasi terkait video viral, Viviyanti turut memaparkan kondisi bangunan sekolah yang saat ini membutuhkan perhatian serius. Ia menyebut sebagian bangunan mengalami kerusakan dan masuk dalam program revitalisasi dari kementerian.

‎“Beberapa ruangan memang sudah sangat memprihatinkan. Ada lantai yang turun dan kondisi bangunan yang cukup membahayakan siswa,” ungkapnya.

‎Menurutnya, program revitalisasi yang diterima sekolah saat ini mencakup 19 ruangan, terdiri dari 12 ruang kelas serta beberapa ruang penunjang seperti ruang administrasi, perpustakaan, UKS, dan toilet.

‎Meski demikian, masih terdapat sejumlah fasilitas yang belum masuk dalam program revitalisasi, seperti ruang bahasa yang rusak berat hingga rata dengan tanah, pagar sekolah,serta lapangan upacara yang kerap tergenang saat hujan.

‎Viviyanti berharap proses revitalisasi dapat berjalan sesuai rencana sehingga fasilitas belajar mengajar di sekolah menjadi lebih aman dan layak digunakan.

‎“Harapan kami ke depan, sekolah ini semakin baik dan anak-anak bisa belajar dengan nyaman dan aman,” tutupnya.(*)Ir