‎Empat Ruang Kelas Rusak, SDN 14 Dampelas Donggala Juga Berjuang Atasi Krisis Air Bersih

 



Donggala.Rekan Rakyat,– Kondisi sarana dan prasarana di salah satu Sekolah Dasar Negeri (SDN) 14 Dampelas di Kabupaten Donggala membutuhkan perhatian pemerintah. Sejumlah ruang kelas mengalami kerusakan, sekolah belum memiliki ruang administrasi, toilet siswa rusak berat, serta pasokan air bersih yang terbatas menjadi persoalan yang dihadapi dalam menunjang proses belajar mengajar.

‎Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Sekolah, Yuliana, S.Pd.SD, mengatakan dirinya baru sekitar dua bulan dipercaya memimpin sekolah tersebut. Meski baru menjabat, ia telah mengabdikan diri sebagai guru di sekolah itu selama 20 tahun 8 bulan.

Menurut Yuliana, selama lebih dari dua dekade mengajar, sekolah tersebut baru dua kali menerima bantuan dari pemerintah. Bantuan terakhir diterima sekitar tujuh tahun lalu berupa pembangunan ruang kelas.



‎"Kalau bantuan terakhir sekitar tujuh tahun lalu. Saat itu yang dibangun ruang kelas untuk kelas 1, kelas 2, dan kelas 3," ujarnya Jumat 17/7.

‎Berdasarkan pantauan di lapangan, beberapa bangunan sekolah kini kembali mengalami penurunan kondisi. Sejumlah ruang belajar tampak mengalami kerusakan sehingga membutuhkan penanganan agar kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung dengan aman dan nyaman.

‎Yuliana menjelaskan, ruang kelas 2, kelas 3, kelas 4, dan kelas 5 menjadi bangunan yang paling membutuhkan perhatian. Selain itu, sekolah hingga kini juga belum memiliki ruang administrasi sehingga pelayanan administrasi masih dilakukan dengan fasilitas yang terbatas.

‎"Kami memohon bantuan pemerintah agar sekolah kami bisa mendapat perhatian. Beberapa ruang kelas membutuhkan perbaikan dan kami juga belum memiliki ruang administrasi," katanya.

‎Persoalan lainnya terdapat pada fasilitas sanitasi. Toilet siswa sebenarnya telah tersedia, namun kondisinya mengalami kerusakan berat sehingga tidak dapat digunakan. Akibatnya, guru dan siswa sementara waktu harus menggunakan toilet guru secara bergantian.

‎"WC murid ada, tetapi kondisinya rusak berat. Karena belum bisa digunakan, sementara guru dan siswa memakai WC guru secara bersama-sama," jelas Juliana.

‎Tak hanya itu, sekolah juga mengalami kesulitan memperoleh pasokan air bersih. Sistem penampungan air yang sebelumnya digunakan mengalami kerusakan setelah terjadi longsor akibat hujan yang terus-menerus mengguyur wilayah tersebut.

‎Menurut Yuliana, penampungan air harus ditempatkan di bagian bawah agar air dapat dipompa menuju lingkungan sekolah. Namun, longsor menyebabkan instalasi tersebut rusak dan tidak lagi dapat difungsikan.

‎"Kami sudah mengajak wali murid bergotong royong mengangkat dan memperbaiki penampungan air itu, tetapi kondisinya sudah tidak bisa digunakan lagi," ungkapnya.

‎Keterbatasan anggaran membuat pihak sekolah belum dapat melakukan perbaikan. Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) telah disusun sesuai perencanaan sehingga belum memungkinkan dilakukan pergeseran anggaran untuk memperbaiki sarana air bersih.

‎Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sekolah saat ini masih mengandalkan pasokan air dari warga sekitar. Namun, pasokan tersebut juga terbatas karena harus menyesuaikan jadwal penggunaan air milik warga.

‎"Sekarang kami masih meminta air dari tetangga sekolah. Tetapi mereka juga memiliki jadwal penggunaan air, sehingga kami tidak bisa bergantung sepenuhnya," tuturnya.

‎Yuliana menambahkan, pihak sekolah telah mengusulkan penghapusan aset bangunan yang rusak serta mengajukan usulan pembangunan kepada pemerintah. Berdasarkan informasi yang diterimanya, kondisi sekolah telah masuk dalam daftar usulan rehabilitasi dan kini tinggal menunggu realisasi.

‎"Kami sudah mengusulkan dan informasinya sekolah ini sudah masuk dalam usulan rehabilitasi. Kami berharap usulan tersebut dapat segera direalisasikan agar kegiatan belajar mengajar berlangsung lebih nyaman dan aman bagi guru maupun siswa," pungkasnya.(Ir)