‎Revitalisasi SMPN 22 Sigi Sentuh 65 Persen

 


‎SIGI,Rekan Rakyat, – Di tengah pelaksanaan Program Revitalisasi Satuan Pendidikan yang didanai APBN Tahun Anggaran 2026, SMP Negeri 22 Sigi masih menyimpan harapan besar agar pemerintah dapat memberikan bantuan lanjutan berupa pembangunan rumah dinas guru dan asrama siswa.

‎Berdasarkan Pantauan Media Ini, sekolah menerima bantuan pemerintah melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dengan nilai anggaran Rp279.886.000 dan masa pelaksanaan selama 120 hari kalender.

‎Kepala SMP Negeri 22 Sigi, Nurseha, mengatakan revitalisasi yang saat ini berjalan telah memberikan manfaat bagi sekolah.Saat ini, progres pekerjaan telah mencapai sekitar 65 persen.

‎"Alhamdulillah pekerjaan berjalan dengan baik dan saat ini progresnya sudah sekitar 65 persen," ujar Nurseha.

‎Meski demikian, pelaksanaan pekerjaan di lapangan menghadapi tantangan tersendiri. Menurutnya, harga material bangunan relatif sama dengan daerah lain, namun tingginya biaya mobilisasi menjadi kendala karena lokasi sekolah berada di kawasan pegunungan.

‎"Harga material sebenarnya sama dengan daerah lain. Yang menjadi tantangan adalah biaya pengangkutan material karena sekolah kami berada di wilayah pegunungan, sehingga biaya mobilisasi cukup tinggi," jelasnya.

‎Selain revitalisasi yang sedang berlangsung, Nurseha berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap kebutuhan sarana pendukung sekolah, khususnya rumah dinas guru dan asrama siswa.

‎Ia menjelaskan, meskipun SMP Negeri 22 Sigi tidak masuk kategori daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), kondisi geografis sekolah yang berada di daerah pegunungan membuat kebutuhan tersebut sangat mendesak.

‎"Harapan kami, meskipun wilayah kami bukan daerah 3T, pemerintah tetap bisa memberikan perhatian. Kami berharap pada 2027 nanti sekolah ini bisa mendapatkan bantuan pembangunan rumah dinas guru dan asrama siswa," katanya.

‎Menurut Nurseha, sebagian besar guru yang mengajar di SMP Negeri 22 Sigi berasal dari wilayah dataran bawah sehingga membutuhkan tempat tinggal yang layak di sekitar sekolah.

‎‎"Rata-rata guru kami berasal dari bawah. Karena itu rumah dinas guru sangat dibutuhkan agar mereka bisa lebih mudah menjalankan tugasnya," ungkapnya.

‎Tak hanya itu, keberadaan asrama siswa juga dinilai penting untuk menekan angka ketidakhadiran peserta didik. Pasalnya, sejumlah siswa harus menempuh perjalanan cukup jauh setiap hari menuju sekolah.

‎"Ada siswa yang berasal dari Tamuli dan Taipanggabe dengan jarak sekitar 9 sampai 10 kilometer. Kalau mereka tidak memiliki kendaraan, sering kali mereka tidak datang ke sekolah. Karena itu asrama siswa memang sangat kami butuhkan," tutur Nurseha.

‎Ia juga menjelaskan bahwa sebelumnya sekolah mengusulkan rehabilitasi rumah dinas. Namun setelah dilakukan penyesuaian berdasarkan arahan dinas dan hasil verifikasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, usulan tersebut dialihkan menjadi rehabilitasi laboratorium dan perpustakaan.

‎"Awalnya yang kami usulkan adalah rumah dinas. Namun berdasarkan arahan dari dinas, usulan itu dialihkan menjadi rehabilitasi laboratorium dan perpustakaan. Usulan tersebut sudah mendapat persetujuan dari kementerian," Tutupnya.(Ir)