Revitalisasi SDN Inpres Tulo Tuai Sorotan, Pekerja Disebut Tak Dilengkapi APD dan Siswa Belajar di Ruang Kelas Belum Rampung



SIGI.Rekan Rakyat,– Pelaksanaan program revitalisasi SDN Inpres Tulo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, mendapat sorotan. Selain persoalan keselamatan kerja, aktivitas belajar mengajar juga disebut berlangsung di ruangan yang proses pengerjaannya belum sepenuhnya rampung.

‎Berdasarkan papan informasi proyek, revitalisasi sekolah tersebut memiliki nilai bantuan sebesar Rp711.793.558 yang bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2026. Pekerjaan dilaksanakan selama 150 hari kalender, terhitung sejak 6 Juli hingga 3 Desember 2026, dengan pelaksana Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP).

‎Program tersebut merupakan Bantuan Pemerintah Revitalisasi Sekolah Dasar Tahun Anggaran 2026 melalui Direktorat Sekolah Dasar, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

‎Kepala SDN Inpres Tulo, Fadriah, mengatakan revitalisasi mencakup rehabilitasi sejumlah fasilitas sekolah, meliputi enam ruang kelas dari kelas I hingga kelas VI, perpustakaan, serta ruang administrasi.

‎Di tengah pelaksanaan pekerjaan, aspek keselamatan pekerja turut menjadi perhatian. Salah seorang tukang mengaku belum mendapatkan alat pelindung diri (APD) sejak pekerjaan dimulai. APD yang dimaksud antara lain helm keselamatan, sepatu keselamatan, rompi, dan sarung tangan.

‎Padahal, pekerjaan revitalisasi melibatkan sejumlah aktivitas yang memiliki risiko keselamatan, termasuk pekerjaan pada bagian atas bangunan.

‎Kepala sekolah mengakui adanya persoalan terkait penyediaan APD tersebut. Ia mengatakan pada awal pelaksanaan pekerjaan belum mengetahui secara jelas mengenai kewajiban penyediaan APD bagi para pekerja.

‎Menurutnya, informasi mengenai kebutuhan APD baru diketahui setelah pekerjaan berjalan.

‎“Saya juga tidak tahu kalau harus disiapkan itu. Setelah beberapa hari baru dapat informasi dari teman-teman P2SP, bahwa pekerja seharusnya diberikan APD untuk keselamatan mereka,” kata Fadriah saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp Jumat 21/8 .

‎Ia menjelaskan, setelah mengetahui hal tersebut, dirinya sempat menyampaikan kepada pekerja mengenai kemungkinan pengadaan APD. Namun, hingga pekerjaan berjalan, penyediaannya belum terlaksana.

‎“Kalau memang harus dibeli, dibeli. Terus kalau memang mau dibeli, di mana harus dibeli peralatannya itu, saya bilang begitu. Tapi pekerjaan juga sudah mau selesai,” ujarnya.

‎Fadriah juga mengakui dirinya tidak terlalu fokus mengawasi persoalan tersebut pada awal pekerjaan karena sedang dalam kondisi berduka.

‎“Waktu itu saya dalam kondisi berduka, jadi tidak terlalu fokus di situ,” katanya.

‎Namun, hasil pantauan di lokasi,Tidak hanya persolan APD yang tidak dibelanjakan media ini juga mendapati aktivitas proses belajar mengajar dilakukan didalam ruangan yang belum sepenuhnya rampung tidak hanya itu  Sejumlah siswa juga terlihat beraktivitas di sekitar area bangunan yang masih menjadi lokasi pekerjaan.

‎Fadriah membenarkan sebagian siswa sempat menggunakan ruangan yang proses rehabilitasinya belum sepenuhnya selesai. Menurutnya, keputusan tersebut diambil karena sebelumnya kegiatan belajar mengajar harus dilakukan di luar ruangan, termasuk di bawah pepohonan, sehingga dinilai kurang nyaman bagi siswa.

‎Ia menjelaskan, penggunaan ruangan tersebut dilakukan setelah adanya kunjungan tim Pemeriksa. Saat kunjungan berlangsung, siswa diketahui sedang belajar di luar ruangan.

‎“Waktu kunjungan Tim Pemeriksa, mereka mendapati siswa tengah melakukan proses belajar mengajar di luar ruangan, di bawah pohon. Terus mereka arahkan kalau memang ruangan itu sudah selesai bisa dipakai. Sebelumnya kami tanyakan juga ke tukang apakah ruangan yang sudah selesai bagian lantai dan plafonnya bisa digunakan. Kemudian dikatakan tidak apa-apa digunakan. Kami juga masih mengerjakan ruangan yang lain, daripada anak-anak kepanasan,” jelasnya.

‎Meski demikian, ia menyebut penggunaan ruangan tersebut hanya bersifat sementara, Apabila pekerja kembali melakukan aktivitas di ruangan yang digunakan siswa, pihak sekolah akan menghentikan kegiatan belajar mengajar di ruangan tersebut.

‎Terkait aktivitas siswa di sekitar area pembangunan, Fadriah mengaku pihak sekolah telah beberapa kali memberikan teguran agar siswa tidak berada di lokasi pekerjaan.

‎“Kalau mereka kerja lagi diruangan yang ada proses belajar mengajar, kami tidak gunakan lagi. Kalau soal aktivitas anak-anak di lokasi pembangunan, sudah sering saya tegur, tapi namanya anak-anak tidak juga didengar,” ujarnya.

‎Kondisi tersebut menimbulkan perhatian terhadap aspek keselamatan pekerja juga siswa, mengingat proses konstruksi masih berlangsung di lingkungan sekolah.

‎Aktivitas pekerjaan yang melibatkan material bangunan dan peralatan kerja berpotensi menimbulkan risiko apabila area proyek tidak dipisahkan secara jelas dari ruang aktivitas siswa.(Ir)