‎SLB Biromaru Berbenah Lewat Program Revitalisasi, Kepala Sekolah Syukuri Perhatian Pemerintah

 


SIGI.Rekan Rakyat, – Harapan panjang keluarga besar SLB Biromaru untuk memiliki fasilitas belajar yang lebih layak akhirnya mulai terwujud. 

‎Melalui Program Bantuan Pemerintah untuk revitalisasi satuan pendidikan yang bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2026, sekolah tersebut memperoleh anggaran sebesar Rp1.489.271.000 untuk memperbaiki dan membangun sejumlah fasilitas pendidikan.

‎Kepala SLB Biromaru, Nurwiyatmo, mengatakan bantuan tersebut menjadi angin segar setelah bertahun-tahun sekolah menjalankan proses belajar mengajar dengan kondisi bangunan yang banyak mengalami kerusakan sejak gempa bumi 2018.

‎Menurutnya, beberapa ruang kelas yang selama ini digunakan sudah tidak lagi memenuhi standar kelayakan. Kondisi bangunan yang menua membuat aktivitas belajar siswa berkebutuhan khusus menjadi kurang nyaman.

‎"Dari hasil penilaian, beberapa bangunan memang sudah tidak layak sejak pascagempa. Karena keterbatasan anggaran, selama ini kami hanya bisa bertahan sambil menunggu bantuan pemerintah," ujarnya Jumat 31/7.

‎Dalam program revitalisasi kali ini, terdapat lima ruang kelas yang direhabilitasi. Selain itu, pemerintah juga membangun sejumlah fasilitas baru, yakni ruang administrasi, kantin, serta ruang pembelajaran khusus  yang nantinya digunakan untuk mendukung layanan pendidikan sesuai kebutuhan peserta didik.

‎Nurwiyatmo menjelaskan, ruang pembelajaran khusus sangat penting karena menjadi tempat asesmen maupun pembelajaran individual bagi siswa yang memerlukan penanganan berbeda sesuai karakteristik dan kebutuhannya.

‎Ia mengaku bersyukur pemerintah akhirnya memberikan perhatian kepada SLB Biromaru. Menurutnya, bantuan tersebut akan meningkatkan kenyamanan siswa dan guru dalam menjalankan proses pembelajaran.

‎"Pastinya kami sangat bersyukur. Sekolah yang sebelumnya kondisinya sudah tidak layak akhirnya bisa direvitalisasi sehingga anak-anak dapat belajar dengan lebih nyaman. Meski masih ada kebutuhan lain, kami tetap berterima kasih atas bantuan ini," katanya.

‎Meski demikian, Nurwiyatmo mengakui masih ada sejumlah fasilitas yang menjadi pekerjaan rumah bagi sekolah. Salah satunya adalah pembangunan asrama bagi siswa yang berasal dari daerah jauh.

‎Selama ini, kata dia, sebagian besar siswa masih harus dijemput dan diantar setiap hari karena sekolah belum memiliki asrama yang memadai. Padahal, beberapa peserta didik berasal dari wilayah yang cukup jauh, bahkan ada yang berasal dari luar Sulawesi Tengah.

‎Selain asrama, sekolah juga masih membutuhkan kendaraan operasional untuk menunjang mobilitas siswa berkebutuhan khusus.

‎"Kami berharap ke depan pemerintah dapat kembali memberikan perhatian, terutama untuk pembangunan asrama dan fasilitas pendukung lainnya. Namun untuk revitalisasi ini kami benar-benar bersyukur karena menjadi langkah besar untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman dan nyaman bagi anak-anak," tutupnya.(Ir)