SIGI.Rekan Rakyat,— Program revitalisasi SD Inpres 2 Pakuli, Kabupaten Sigi, tidak hanya menyasar perbaikan sarana dan prasarana sekolah, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat di sekitar sekolah.
Kepala SD Inpres 2 Pakuli, Ihwan, mengatakan pelaksanaan pekerjaan revitalisasi turut memberdayakan masyarakat setempat, khususnya warga yang memiliki keterampilan sebagai tenaga tukang.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat sekitar menjadi salah satu manfaat yang dirasakan selama proses pembangunan berlangsung. Ia menyebut, sejumlah tenaga kerja dari luar daerah juga berminat untuk terlibat dalam pekerjaan tersebut. Namun, pelaksanaan revitalisasi tetap mengutamakan pemberdayaan masyarakat sekitar sesuai ketentuan program.
“Yang utama itu masyarakat sekitar diberdayakan. Jadi selain sekolah mendapat bantuan, masyarakat juga mendapatkan lapangan pekerjaan,” kata Ihwan saat ditemui diruang kerjanya Sabtu 5/9.
Ia menjelaskan, program revitalisasi ini merupakan bantuan dari Kementerian Pendidikan dengan skema swakelola yang dilaksanakan Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP), memiliki anggaran sekitar Rp600 juta lebih.
Pekerjaan meliputi rehabilitasi empat ruang kelas, toilet, rumah dinas guru, serta pembangunan satu unit toilet baru. Sejumlah fasilitas tersebut sebelumnya mengalami kerusakan cukup berat.
Selain itu, pekerjaan revitalisasi juga mencakup penataan lingkungan sekolah, termasuk halaman dengan pemasangan paving block serta pembangunan gerbang sekolah.
Menurut Ihwan, rehabilitasi rumah dinas guru menjadi bagian penting dalam program tersebut. Fasilitas itu dibutuhkan untuk menunjang keberadaan guru, mengingat sejumlah tenaga pendidik di sekolah tersebut berasal dari wilayah yang cukup jauh dan membutuhkan tempat tinggal yang dekat dengan sekolah.
“Rumah dinas guru juga direhabilitasi karena kondisinya sudah rusak berat. Ini juga membantu guru-guru yang tempat tinggalnya jauh,” ujarnya.
Saat ini, jumlah siswa SD Inpres 2 Pakuli tercatat lebih dari 80 orang. Untuk menunjang proses belajar mengajar selama pekerjaan revitalisasi berlangsung, sekolah menerapkan sistem pembelajaran secara bergiliran.
Sebagian siswa mengikuti pembelajaran pada pagi hari, sementara siswa lainnya masuk pada siang hari.
“Pembelajaran sementara dibagi shift, ada yang masuk pagi dan ada yang masuk siang,” jelasnya.
Ihwan berharap program revitalisasi tersebut dapat terus berlanjut pada tahun berikutnya. Sebab, masih terdapat sejumlah kebutuhan sekolah yang belum terpenuhi, di antaranya laboratorium komputer, ruang administrasi, dan perpustakaan.
“Harapan kami bantuan ini bisa berlanjut tahun depan. Masih ada beberapa kebutuhan yang belum terpenuhi, terutama laboratorium komputer dan ruang administrasi,” katanya.
Ia menilai keberlanjutan program revitalisasi penting untuk memastikan seluruh fasilitas pendidikan di sekolah dapat diperbaiki secara bertahap, sehingga siswa dan guru memperoleh lingkungan belajar yang lebih layak.
Selain meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pendidikan, program tersebut juga diharapkan terus memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar melalui keterlibatan tenaga kerja lokal dalam pelaksanaan pembangunan.(Ir)
